
Indonesia Women’s League (IWL) di luncurkan PSSI dan I.League. Berikut semua hal tentang kompetisi putri; dari format, pemain asing, hingga grading pemain.
IWL akan diikuti oleh enam klub yang berdomisili di Jabodetabek. Enam klub itu adalah Persija Jakarta, Persita Tangerang, Dewa United FC, Persikad Depok, FC Bekasi, dan Garudayaksa.
Para peserta akan berkompetisi dalam format triple round-robin. Itu berarti setiap tim akan saling berhadapan tiga kali dalam satu musim kompetisi.
Dengan begitu, setiap tim setidaknya akan memainkan 15 pertandingan. Jumlah pertandingan akan bertambah untuk empat tim teratas di klasemen, mereka berhak melanjutkan kiprahnya ke babak gugur (semifinal hingga final).
“Jadi paling tidak setiap klub akan bermain 15 kali selama satu season, kemudian dilanjutkan dengan babak semi-final dan final. Jadi itu adalah minimum menit bermain yang di miliki oleh masing-masing klub untuk musim pertama ini,” kata CEO IWL Teddy Tjahjono di Kantor I.League, Selasa (11/8/2026).

Kickoff kompetisi akan di mulai dengan pertandingan antara Persita Vs Persija pada 17 Oktober 2026. Stadion Soemantri Brodjonegoro di Kuningan, Jakarta, menjadi lokasi pertandingan sentralisasi.
Rencananya, pertandingan-pertandingan akan di gelar setiap akhir pekan. Kebijakan ini di pilih untuk mengakomodir para pemain yang masih berstatus pelajar, baik di tingkat sekolah maupun universitas.
Dengan jumlah peserta yang belum banyak, kompetisi akan berjalan tiga bulan saja. Setelah kickoff pada pertengahan Oktober, kompetisi akan selesai pada Januari 2027.
Menariknya, talent pool pesepakbola putri Indonesia di bagi rata ke semua klub. Dengan grading A dan B, semua pemain disebar ke enam klub dengan harapan tidak terjadi ketimpangan.
“Kami sudah beberapa kali meeting dengan owners club untuk menyepakati grading. Termasuk akhirnya kami undi sistem grading. Jadi undian di lakukan bersama-sama,” ucap Teddy.
Kickoff kompetisi akan di mulai dengan pertandingan antara Persita Vs Persija pada 17 Oktober 2026. Stadion Soemantri Brodjonegoro di Kuningan, Jakarta, menjadi lokasi pertandingan sentralisasi.
Rencananya, pertandingan-pertandingan akan di gelar setiap akhir pekan. Kebijakan ini di pilih untuk mengakomodir para pemain yang masih berstatus pelajar, baik di tingkat sekolah maupun universitas.
Dengan jumlah peserta yang belum banyak, kompetisi akan berjalan tiga bulan saja. Setelah kickoff pada pertengahan Oktober, kompetisi akan selesai pada Januari 2027.
Menariknya, talent pool pesepakbola putri Indonesia di bagi rata ke semua klub. Dengan grading A dan B, semua pemain di sebar ke enam klub dengan harapan tidak terjadi ketimpangan.
“Kami sudah beberapa kali meeting dengan owners club untuk menyepakati grading. Termasuk akhirnya kami undi sistem grading. Jadi undian di lakukan bersama-sama,” ucap Teddy.
